Jumat, 18 April 2014


Hai Cinta lovers,..
Sebelumnya saya mau tanya nih. Menurut kalian cinta itu apa sih????
Tahu gak, ternyata Cinta itu ada teorinya lho??...
Cinta Lovers tahu teorinya bagaimana??

Dalam kesempatan ini, aku mau mbahas salah satu teori tentang Cinta nih. Cinta Lovers pasti penasaran. Teori yang akan aku bahas kali ini datang dari Sigmund Freud. Dialah bapak Psikologi yang mengusung teori Psikodinamika.

Apa sih psikodinamika??? Cinta Lovers bingung yach??? Hehehehehe

Agar mudah dipahami, singkat cerita psikodinamika adalah teori dalam psikologi yang mengungkapkan bahwa perilaku manusia, sebagian besarnya ialah dipengaruhi oleh alam bawah sadar. Dan biasanya dikenal dengan fenomena gunung es,.. dimana bagian gunung yang muncul di permukaan adalah kesadaran kita (ukurannya lebih kecil), sedangkan bagian yang dibawah permukaan (bagian yang sangat besar) adalah bawah sadar seseorang. Sehingga apapun perilaku seseorang, itu sangat dipengaruhi oleh alam bawah sadarnya.

Yach, itulah penjelasan singkat tentang teori Psikodinamika secara umum. Tapi kali ini kita akan bahas secara khusus yaitu dari pandangan salah satu tokoh Psikodinamika (Sigmund Freud).

Menurut mbah Freud nih, dorongan seks merupakan dasar atau asal mula segala motifasi manusia. Dengan demikian, Cinta semata-mata merupakan suatu instrument untuk memenuhi kebutuhan seksual saja. Cinta bermula dari dorongan seks. Ini sesuai dengan salah satu untsur dalam teori segitiga Sternberg dari titik gairah.

Dari penjelasan tentang teori seksual inilah Freud beranjak menjelaskan tentang cinta. Bagi dia, cinta itu muncul pada fase phallik yang disertai dengan munculnya Kompleks Oedipus. Perasaan yang biasa muncul adalah rasa cemburu seorang anak perempuan kepada ibunya dan anak laki-laki kepada ayahnya. Selain itu, keinginan seorang anak mempermainkan alat kelaminnya khususnya anak laki-laki menjadi bukti konkret tumbuhnya cinta dalam diri manusia. Dengan demikian, tese sentral Freud tentang teori cinta ialah bahwa segala macam cinta adalah derivatif dari insting-insting seksual.[4] Sebagai suatu hal yang bersifat derifatif dari insting-insting seksual, cinta itu tidak datang dari luar diri manusia melainkan terungkap dari insting-insting itu sendiri. Cinta seseorang pada suatu objek tidak bisa lepas dari seksualitasnya karena cinta hanya dibutuhkan sebagai salah satu bentuk aktualisasi seksual.

Teori Freud tentang cinta menjadi semakin jelas ketika dia menunjukkan dua ciri utama cinta, yaitu: cinta yang eksklusif dan penaksiran yang berlebihan.[5] Kedua ciri ini dia jelaskan dengan menggabungkan dua unsur cinta yaitu objek dan tujuan. Untuk ciri yang pertama Freud menjelaskan bahwa cinta itu menjadi eksklusif ketika suatu pilihan ditujukan kepada suatu objek khusus dengan tujuan untuk mendapatkan suatu kepuasan seksual. Cinta yang demikian oleh Freud disebut sebagai cinta sensual. Akan tetapi ada juga jenis cinta yang masuk dalam ciri ini yaitu cinta normal. Cinta ini muncul ketika dalam diri manusia muncul afeksi terhadap objek yang sama yang membuatnya memperoleh suatu situasi yang penuh dalam cinta. Untuk ciri yang kedua, penghargaan yang berlebihan terhadap objek, Freud menjelaskan bahwa ciri ini terjadi ketika suatu objek dihargai berlebihan dari objek lain. Menurut Freud,:

In connection with this question of being in love we have always been struck by the phenomenon of sexual over-estimation – the fact that the loved object enjoys a certain amount of freedom from criticism, and that all its characteristics are valued more highly than those of people who are not loved, or than its own were at a time when it itself was not loved.[6]

Dari pendapat ini dapatlah dimengerti bagaimana Freud melihat ciri yang kedua ini bisa terjadi dalam diri manusia dalam bagaimana cinta itu dapat menimbulkan penaksiran yang berlebihan terhadap orang yang dicintai. Cinta yang berlebihan ini juga dia hubungkan dengan rangsangan seksual yang diungkapkan dengan cara berlaku lebih baik terhadap objek dari objek lain.

Teori cinta Freud diperbaiki oleh Erich Fromm, yang disebut sebagai Neo-Freudian. Dalam bukunya yang terkenal, The Art Of Loving (1995), dia menyatakan bahwa cinta adalah suatu kebutuhan dasar manusia untuk keluar dari kesepian dan kesendirian. Erich Fromm Menunjukkan lima jenis cinta sebagai berukut:

·         Cinta persaudaraan (love of all humanity).
·         Cinta orang tua kepada anaknya (parental love)
·         Cinta erotis, yaitu gairah untuk melakukan hubungan seks.
·         Cinta pada diri sendiri (Self love)
·          Cinta kepada Tuhan (religious love)


Menurut Erich Fromm, seorang menjadi manusia sebenarnya melalui percintaan. Seorang tidak mungkin mencinta orangg lain bila tidak mencintai diri sendiri. Nah ini yang sulit dilakukan oleh orangg yang dimabuk kepayang oleh cinta, terkadang terlalu mencintai pasanganya dari pada diri sendiri sehingga Kep…..w….an dan Kep….j…an Pun dikorbankan untuk orang yang dicintai. Seseorang mencinta orang lain, memiliki keinginan untuk mendorong orang yang dicintai agar mencapat proses aktualisai diri (mengembangkan potensi secara optimal), berdasarkan kebutuhan untuk saling memberi dan menerima.

0 komentar :